Minggu, 08 Mei 2011

SISI LAIN HARDIKNAS 2 MEI 2011 KABUPATEN BATU BARA


Catatan : Albakti Hasibuan,SIP.
Wartawan Tabloid POLMAS

Pelaksanaan peringatan Hari pendidikan nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 mei 2011 di peringati di lapangan bola kaki lima puluh kota, kecamatan lima puluh kabupaten batu bara.
Acara peringatan ini dihadiri oleh seluruh unsur pejabat dan mayarakat kabupaten batu bara serta beberapa tokoh yang berasal dari luar kabupaten batu bara.

Pada peringatan  hardiknas kali ini diadakan juga penyerahan secara simbolis SK. CPNS, pemberian penghargaan kepada Pengawas sekolah berprestasi, guru berprestasi, siswa berprestasi, tokoh masyarakat peduli pendidikan serta kepala sekolah berprestasi. Acara berlangsung tertib dan penuh kesemarakan.

Namun pada saat yang sama coba kita lihat acara peringatan Hardiknas di pelosok kabupaten ini. Acara berlangsung penuh dengan kesederhanaan tanpa ada umbul umbul kebesaran.

Mari kita lihat sisi lain dari Peringatan kali ini, saya mengamati mereka mulai saat para siswa dan guru datang kesekolah. Guru-guru datang dengan memakai seragam PGRI kelihatannya mereka cukup bersemangat walau kepala sekolah mereka tidak ikut hadir disekolah mereka pada hari itu dikarenakan, para kepala sekolah harus mengikuti acara peringatan Hardiknas di kota kabupaten bersama dengan bupati dan pejabat daerah yang lain.

Anak anak pelajar SD pun sudah tiba disekolah mereka memakai seragam putih-merah. terlihat mereka ceria, bergembira dan bercanda dengan teman-teman mereka. Sepertinya ada kerinduan antara mereka karena sehari sebelum hari ini mereka tidak berjumpa karena libur hari minggu.

Hari itu hujan rintik-rintik menyirami sekolah ini, anak anak terlihat berkumpul didalam kelas juga di teras depan sekolah walau ada satu dua siswa yang berjalan dilapangan sekolah menuju warung untuk sekedar membeli sarapan pagi.

Jam 08.30 lonceng dipukul seorang guru laki-laki yang masih berstatus honorer, anak anak terlihat berlari dan berjalan cepat menuju lapangan untuk berbaris. Aba aba untuk berbaris dengan tertib terdengar tegas dari seorang guru, anak anak yang mendapat giliran untuk menjadi petugas upacara mengambil posisi, upacara pun digelar.

setelah barisan rapi inspektur upacara memasuki lapangan upacara. Saat sang merah putih dinaikkan ketiang dan diiringi lagu kebangsaan Indonesia raya seluruh siswa menyanyikannya dengan sikap tegak sempurna, bibir mereka bergetar sepertinya tak satu huruppun luput dari ucapan mereka, lagu Indonesia raya sempurna mereka perdengarkan inilah suatu pertanda Nasionalisme tumbuh dijiwa dan setiap tetes darah mereka.

Saat mengheningkan cipta kepala tertunduk khidmat penuh jiwa tak seorangpun yang menengadahkan kepala mereka sampai aba aba….. hening cipta selesai…..diucapkan sang Pembina upacara. Inilah sebuah tanda mereka adalah anak anak yang patuh tunduk pada sebuah nilai kebenaran.

Saya tersentak sebentar mengapa di tengah tengah kita saat ini begitu banyak masalah tentang nasionalisme dan kepatuhan pada negara yang dipertanyakan?  Anak anak kita adalah anak yang cerdas, memiliki nasionalisme dan anak yang patuh tetapi, saat mereka beranjak dewasa mengapa mereka berubah?

Amanat Bupati Batu Bara dalam lembaran pidatonya mengulas pentingya “Pendidikan berbasis karakter”  dengan jelas disampaikan bahwa karakter yang ingin kita bangun bukan hanya karakter berbasis kemuliaan diri semata akan tetapi bersamaan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa. Karater yang ingin kta bangun bukan hanya kesantunan tetapi juga menumbuhkan kepenasaran intelektual sebagai modal membangun kreatifitas dan daya inovasi.(Pidato Bupati Batu Bara Pada Hardiknas, 2mei 2011)

Yah..kita harus berkarakter, kalau boleh sedikit berpikir rumit, apakah karakter dapat dibangun hanya dengan slogan semata? tentu saja tidak. Dunia pendidikan yang merupakan sebuah dunia yang begitu cepat dalam mentrasformasikan ilmu dan pengetahuan tentu saja harus dilakukan pembenahan terlebih dahulu.

Karakter akan dapat ditularkan kepada generasi kita apabila yang menularkan karakter tersebut adalah orang yang sudah memiliki karakter (berkarakter). Para intelektual dan elit (pejabat pemerintah, pemerhati dan pelaku dunia pendidikan) apakah sudah menyadari dan memahami kemampuan diri dan kapasitas diri apakah sudah layak menjadi seorang pemberi pelajaran dan ilmu pengetahuan yang berbasis karakter.

Sepertinya hanya akan menjadi mimpi bila semua sector pendidikan belum dilakukan pembenahan secara menyeluruh.
Anggaran pendidikan yang mencapai 20% dari APBN belum cukup sebagai jaminan untuk keberhasilan dunia pendidikan kita bila tidak diikuti dengan perbaikan dibidang sumber daya manusia. Guru dan tenaga pengajar haruslah benar benar sebuah pribadi yang mumpuni baik secara intelektual maupun moral. Pemerintah juga harus memperhatikan kesejahteraan para guru sekaligus melakukan seleksi secara ketat proses rekruitmen seorang guru. Paling tidak jelas latar belakang pendidikannya dan standart kemapuan penguasaan keilmuannya.

Kalau boleh kita mengutip sebuah pernyataan dari seorang pakar pendidikan PBB yang saya lupa namanya, dia mengatakan bahwa….” Insfrastruktur yang baik dan mewah tidak menjamin  Proses pendidikan dan pembelajaran berjalan apabila sumber daya manusia yang mengelolanya lemah, dan sebaliknya proses pendidikan dan pembelajaran akan bisa berjalan bila sumberdaya manusia yang mengelolanya kuat walau insfrastukturnya pas-pasan”.

Nah sekarang mari bersama kita menganalisa dimana kelemahan kita…mari bersama kita berbenah demi masa depan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar